7 Cara Mudah Menanam Kangkung Hidroponik di Baskom

Tumbuhan kangkung yang termasuk jenis sayur-sayuran ini banyak tumbuh di kawasan Asia, seperti Indonesia, Australia, dan sekitarnya.

Kangkung merupakan tanaman yang memiliki kemampuan tumbuh dalam waktu singkat dan serempak. Hanya membutuhkan waktu 4 – 6 minggu setelah benih, kangkung sudah bisa dipanen.

Dari segi harga kangkung terbilang cukup murah meriah. Salah satu hal yang menyebabkan kangkung murah adalah kecepatan produksi tanaman kangkung itu sendiri. Keunggulan tersebut juga bisa dijadikan sebagai peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Tak heran jika tidak sedikit orang yang rela menginvestasikan uangnya hanya untuk mempersiapkan lahan untuk menanam kangkung yang selanjutnya dipasarkan.

Jika kamu tertarik ingin menanam kangkung sendiri dirumah, ini akan lebih baik karena dapat membantu anda dalam menghemat anggaran belanja.

Banyak cara yang dapat kamu terapkan dalam menanam kangkung ini, salah satunya adalah menanam kangkung dengan sistem hidropinik.

Alasan kenapa memakai sistem tanam hidroponik, tanaman yang ditanam dengan sistem hidroponik mempunyai kualitas yang lebih baik daripada tanaman yang ditanam di lahan dengan media tanam berupa tanah saja.

Semua itu dipengaruhi oleh cara penanaman, perawatan, dan yang paling utama pemilihan bibitnya. Oleh sebab itu, apabila Anda masih tergolong awam dalam dunia hidroponik, ada baiknya untuk mengetahui bagaimana cara menanam kangkung hidroponik dibawah ini

Adapun cara menanam kangkung hidroponik adalah seperti berikut :

1. Persiapan Bahan dan Peralatan

Peralatan dalam menanam kangkung dengan sistem hidroponik tidaklah banyak dan tidak akan menguras banyak isi dompet Anda.

Untuk lebih jelasnya, berikut bahan dan alat yang perlu Anda siapkan saat akan memulai budidaya kangkung hidroponik di rumah.

Bahan-bahan yang diperlukan:

Beberapa bahan dan alat untuk menanam kangkung hidroponik ternyata bisa kamu temui dengan muah di rumah kamu seperi :

1). Benih kangkung

Anda bisa menemukan benih kangkung di toko pertanian dekat rumah Anda atau bisa memsanya lmelalui internet.

2). Pupuk hidroponik

Pupuk hidroponik yang dibutuhkan seperti AB Mix hidroponik sayur yang juga bisa Anda beli di toko-toko pertanian. Atau Bisa juga menggunakan pupuk organik cair yang anda buat sendiri.

3). Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)

ZPT seperti Atonik yang nantinya akan digunakan saat merendam benih kangkung. Tujuan penggunaan ZPT untuk memberi dukungan terhadap tanaman agar lebih cepat berkecambah dan tumbuh.

Alat-alat yang diperlukan:

Adapun alat-alat yang diperlukan untuk menanam kangkung hidrponik adalah sebagai berikut :

1). Besek plastik

Bentuknya seperti saringan (terdapat lubang-lubang kecil di keseluruhan sisi dan permukaan) dengan ukuran yang cukup besar.

2). Baskom

Karena kita memanfaatkan media baskom dan besek plastik usahakan ukuran baskom sama dengan diameter besek plastik agar nantinya besek tidak mengapung di atas baskom.

Catatan:
Penggunaan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) tidak wajib.

2. Pemilihan Benih Kangkung

Apabila Anda menginginkan hasil produksi kangkung yang benar-benar baik, maka perlu diperhatikan juga dalam menentukan benih kangkung yang hendak ditanam atau digunakan haruslah yang berkualitas.

Rekomendasi kami gunakan Bibit kangkung unggu atau Bibit kangkung idaman, Bibit kankung idaman memiliki beberapa kelebihan seperti pemanenan dengan cara dicabut atau dipotong, pertumbuhan serempak serta tidak merambat.

Dengan memilih bibit kangkung yang berkualitas, maka presentasi tingkat keberhasilan pada proses budidaya kangkung akan bertambah dengan tingkat kualitas tanaman yang dihasilkan.

3. Penyemaian Bibit Kangkung

Sebenarnya ada dua cara menanam kangkung hidroponik, yakni pertama dengan teknik semai benih atau kedua dengan teknik tanam langsung. Entah itu di dalam baskom, dengan botol bekas, dengan paralon, atau dengan metode bercocok tanam di lahan luas, semuanya bisa dengan teknik tersebut dan hasil yang diperoleh juga tidak jauh berbeda.

Lalu, mana yang terbaik?

Keduanya baik, akan tetapi teknik semai benih yang melewati dua proses. Dalam membudidayakan tanaman kangkung berkonsep hidroponik, kami akan mengajak Anda untuk menggunakan teknik yang pertama yakni teknik semai.

Sebelum memulai menyemai, Anda harus memberlakukan benih untuk mengetahui mana benih yang bagus dipakan dan kurang. Bagaimana caranya?

1). Sediakan baskom dan isi dengan air bersih.

2). Tuang benih kangkung tersebut ke dalam wadah berisi air, kemuadian biarkan seharian.

3). Keesokan harinya, Lihaatlah Anda akan melihat bebrapa benih yang mengapung dan beberaa benih ada yang tenggelam.

4). Buang benih kangkung yang mengapung karena benih yang mengapung tandanya benih tersebut tidak dapat berkecambah dan mengalami pertumbuhan yang relatif lambat.

Setelah anda mendapatkan benih yang benar-benar layak pakai dan berkualitas, selanjutnya anda bisa memulai kegiatan semai benih. Berikut cara-caranya:

1). Ambil kain dengan ketebalan cukup untuk menyerap air.

2). Bungkus benih kangkung yang telah direndam tadi dengan kain.

3). Kemudian, siram kain dengan air hangat secukupnya. Fungsinya agar kain sekadar basah agar bisa menjaga kelembaban untuk mempercepat benih kangkung pecah menjadi kecambah.

4. Pemberian Nutrisi Hidroponik

Seperti yang telah disinggung di atas, Anda bisa membuat nutrisi hidroponik dengan menggunakan bahan-bahan organik dari sekitar, atau jika ingin praktis bisa dengan meracik sendiri pupuk organik yang telah dibeli dari toko pertanian terdekat.

Jika Anda memilih untuk menggunakan nutrisi hidroponik dari pupuk AB Mix, maka berikut cara meraciknya:

1. Ambil 1 liter air, selanjutnya tambahkan 5 ml nutrisi A dan 5 ml nutrisi B. Seperti itu takarannya.

2. Aduk hingga pupuk tercampur dengan rata kemudian masukkan larutan nutrisi ke baskom dengan ketinggian mencapai permukaan batas bawah besek.

3. Usahakan agar tidak membiarkan benih terendam, karena jika benih terendam akan busuk nantinya.

5. Perancangan Wadah Tanam kangkung

Yang harus anda lakukan di tahap ini adalah

1. Pindahkan semua benih yang sudah berkecambah ke dalam besek. Anda bisa melapisi bagian bawah besek dengan busa filter akuarium ataupun tidak, tidak masalah.

Budidaya kangkung hidroponik tidak menggunakan media tanam juga tidak masalah karena kangkung mempunyai akar tunggang yang akan menopang kangkung agar berdiri tegak.

2. Tuangkan larutan nutrisi ke dalam baskom sampai mengenai permukaan besek dan benih. Jika Anda menggunakan busa filter akuarium maka cukup sampai terkena busa tersebut.

3. Letakkan besek ke atas baskom berisikan larutan nutrisi tadi.

4. Selanjutnya, Anda bisa langsung memperkenakan benih pecah ke bawah sinar matahari.

Atau Anda juga bisa membiarkan tanaman melakukan gerak pertumbuhan (fitotropisme) dengan cara menutup besek dan baskom dengan plastik hitam selama satu hari penuh.

Apabila dari awal anda langsung menginginkan hidroponik kangkung dengan menggunakan besek lebih dari satu (banyak), maka ada hal yang harus Anda ketahui.

Benih kangkung akan mengalami pertumbuhan lebih baik dan efisien jika benih-benih tersebut berjumlah banyak dalam satu wadah, dan hampir tidak ada ruang kosong di antaranya.

6. Perawatan Tanaman Kangkung Hidroponik

Di tahap perawatan ini yang perlu anda perkatikan adalah kebutuhan nutrisi kangkung dan jangan sampai membiarkan kangkung tidak mendapatkan nutrisi dari larutan di bawahnya.

Ketika kangkung sudah memasuki umur 2 minggu atau lebih, konsentrasi larutan akan bertambah. Anda perlu meningkatkan jumlah pupuk yang tadinya hanya 5 ml per 1 liter kini menjadi 7 – 9 ml per liter. Ganti larutan nutrisi jika sudah berbau. Lakukan hal seperti itu hingga memasuki masa panen.

7. Masa Panen Kangkung Hidroponik

Kangkung merupakan salah satu tanaman yang mengalami pertumbuhan dalam waktu singkat.

Itulah salah satu keunggulan yang dimiliki kangkung selain bisa tumbuh di berbagai cakupan kondisi ladang tanam.

Anda susah bisa memanen kangkung setelah 4 – 6 minggu (sekitar 1 bulan atau lebih) saat terlihat masih segar dan belum tua.

Setelah dipanen dan dibersihkan, Anda bisa mengolah dan nikmati kangkung hidroponik yang nikmat dan menyehatkan tanaman sendiri tersebut bersama keluarga tercinta.

Advertisements

Bukan Enggak Bisa Bangun Pagi, Tapi Enggak Biasa Tidur Awal Waktu

Adakah di antara kita yang tidak pernah bangun kesiangan? Bisakah kita selalu memulai aktivitas sebelum matahari terbit dengan sangat sigap dan antusias? Atau mampukan kita senantiasa terjaga di sepertiga malam terakhir untuk bercengkrama mesra dengan Tuhan Maha Pencipta  hingga fajar tiba? Alangkah indahnya jika kita memulai hari dengan jiwa, pikiran, dan tubuh yang senantiasa segar, penuh semangat dan vitalitas. Siap menyambut hari dan segala tantangan yang menyertai.

Namun, banyak di antara kita kerap terburu-buru diburu waktu karena matahari muncul terlebih dulu. Rasanya kita baru tidur sebentar saja, ternyata malam sudah sejak tadi berlalu. Bangun terkejut karena alarm berbunyi atau panggilan ibu yang tak henti. Panggilan ibu biasanya masih dapat disebut keberuntungan. Kalau sampai ayah yang membangunkan, bisa lain cerita. Panggilan akan digantikan siraman air dingin atau sebatan rotan yang tak sekadar mampir.

Kesiangan selalu membuat kita terburu-buru. Buru-buru mandi, pakai baju, shalat subuh jika perlu. Sejurus kemudian mematut diri sesaat di depan cermin, memastikan penampilan kita tidak mengenaskan. Bagus jika sempat sarapan. Sering kali hal itu terpaksa dilewatkan karena ingat jalan raya sudah macet sesak. Daripada harus menikmati deru suara kendaraan dan klakson yang bersahut-sahutan tak sabaran, lebih baik tak sarapan. Macet di negeri ini selalu menguji emosi dan kekuatan iman. Mengulur waktu lima menit saja, bisa berarti perjalanan akan menghabiskan waktu dengan selisih satu jam atau lebih dari jadwal sampai seharusnya.

Kita terburu-buru karena tak tertib waktu. Sering tergesa-gesa karena belum mampu mengatur diri. Kata trainer tahun-tahun belakangan ini: yang harus diatur itu diri bukan waktu, karena waktu tidak berubah, sampai kiamat akan tetap 24 jam, maka diri kita yang harus menyesuaikan tiap detik dan menitnya.

Mungkin kita memang salah sejak awal hari. Bukan tak bisa bangun pagi tetapi tidak membiasakan diri tidur di awal waktu. Bagaimana kita akan mampu memaknai hari-hari kita jika diawali dengan rentetan ketergesaan?

Hal ini boleh jadi berawal dari pemahaman waktu yang kurang tepat. Kita seringkali beranggapan hari dimulai pada pukul 00:00 teng. Padahal kita adalah umat yang diajarkan untuk memahami bahwa pergantian hari terjadi sejak matahari tenggelam. Tuhan telah menyuratkan dalam kitab suci bahwa dalam pergantian siang dan malam ada pelajaran bagi insan yang mau berpikir. Maka sewajarnya kita mempersiapan penutupan hari dan menyambut hari baru sejak maghrib. Menyambut dengan syukur dan khusyuk sehingga sejak senja kita bertasbih, bertahmid dan beristighfar lebih banyak. Berupaya meraih ketenangan di tengah kesibukan. Menggunakan malam sebagaimana fungsinya: untuk beristirahat setelah seharian beraktivitas. Mengisi kembali energi yang telah banyak digunakan.

Kita tidak perlu tidur 8 jam atau lebih. Jika ini terjadi, kita akan menghabiskan sepertiga umur kita untuk tidur. Tapi kita juga bukan Pak Habibie, yang menurut kabar, tidur hanya 1-2 jam dalam sehari. Sebenarnya, bagi orang dewasa, tidur berkualitas selama 3-5 jam itu cukup. Tapi yang harus benar-benar diperhatikan adalah kapan kita tidur dan kapan kita bangun. Tidak sama kualitas tidur 5 jam dari jam 22:00-03:00 dengan tidur 5 jam dari jam 01:00-06:00.

Karena organ tubuh kita memiliki jam piket, ada keteraturan dan ketertiban yang mesti dijaga. Pada pukul 21:00-23:00 jam piket limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan regenerasi sel limpa. Pada pukul 23:00-01:00 jam piket organ jantung lemah, jika masih terjaga dapat melemahkan fungsi jantung. Sedangkan jam piket liver (hati) untuk membuang racun dalam tubuh berkisar antara  pukul 01:00 sampai 03:00 dini hari. Kalau pada waktu tersebut tubuh masih terjaga, maka limpa, jantung dan hati tak akan bekerja optimal. Ditambah lagi asupan nutrisi tak memadai, tak heran kalau thypus dan berbagai penyakit senantiasa melangganan orang-orang yang sering begadang. Organ tubuh mereka selalu bekerja ekstra di saat seharusnya beristirahat.

Padahal jauh-jauh hari Bang Rhoma sudah mengingatkan:

Begadang jangan begadang!
Kalau tiada artinya,
Begadang boleh saja kalau ada gunanya.

Jadi, apa gunanya begadang? Sebagai manusia, tak jarang kita merasa menjadi makhluk yang paling sibuk sedunia, hingga menyepelekan urusan tidur. Menunda sampai larut malam, karena yang terpenting tugas pekerjaan sudah selesai semuanya. Meski ada pula yang Tuhan uji dengan rizki yang didapatkan melalui pekerjaan dengan shift malam. Tapi ada yang tidak harus bekerja tapi menyengaja tidur larut. Apalagi jika Liga Seri A, La Liga, Premier League, Champion League, atau Piala Dunia sedang terselenggara. Atau gandrung drama Korea yang serinya bukan habis sekali tayang.

Selain itu, ada insomnia yang disebut-sebut sebagai gejala sulit tidur pada malam hari. Gangguan ini menjadi pembahasan tersendiri dalam kajian psikologi. Stres berupa kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah, d.s.b. ditengarai sebagai faktor yang paling berpengaruh.

Bagi mahasiswa apalagi yang belum menikah, stressor (keadaan yang dapat menimbulkan stres) biasanya berupa kiriman uang bulanan dari orang tua yang telat; tugas-tugas belum selesai, padahal batas waktunya semakin mendekat; skripsi yang tak kelar-kelar; merenungkan masa depan setelah jadi sarjana di tengah persaingan dunia kerja kelak; hingga jodoh yang belum kunjung datang. Kalaupun sudah bertemu yang dirasa pas, maka bagaimana memunculkan keberanian menghadapi wali sang perempuan idaman.

Lain lagi jika sang mahasiswa tak hanya sekadar kuliah dan fokus mengerjakan tugas agar mendapat IPK tinggi, tapi dalam waktu bersamaan juga memilih menjadi aktivis sejati. Beban akan bertambah lagi. Tugas-tugas organisasi, koordinasi sana sini, penggodokan konsep, kebijakan, dan strategi demi civitas akademika juga rakyat Indonesia memiliki porsi tersendiri dalam benak.

Sedangkan bagi yang sudah menikah, beban yang dirasakan tak jauh dari kondisi keuangan di tengah perekonomian negeri yang tak kunjung membaik. Uang belanja terus membengkak, dan kini biaya listrik naik tanpa pengumuman. Biaya sekolah anak, cicilan KPR atau bayar kontrakan, ongkos PP kantor dan sekolah, dan kebutuhan lainnya yang tak terelakkan juga menjadi pendorong stres yang efektif. Apalagi jika hubungan keluarga tak seharmonis yang diharapkan. Pun interaksi di kantor dengan berbagai rutinitas monoton dan bos yang agak diktator atau rekan kerja yang menyebalkan. Tak heran banyak di antara kita yang terbiasa dengan pikiran yang runyam. Kalau terus begini, harapan bisa poligami akan semakin jauh dari jangkauan.

Pakar kesehatan juga menyebut-nyebut salah satu hal yang membuat sulit tidur adalah gadget. Sebagian kita memilih tetap bercengkrama dengan gawai pintar meskipun telah merebahkan diri di tempat tidur. Memeriksa akun-akun media sosial, ngobrol, sekadar menyapa, melihat-lihat berbagai foto dan video, atau berselancar santai membaca artikel-artikel ringan. Tanpa sadar cahaya yang tampil pada layar membuat mata sulit terpejam. Belum lagi radiasi yang diduga dapat mempengaruhi kesehatan otak. Para dokter bahkan sampai menganjurkan “hygiene tidur”, kondisi tidur yang bebas dari segala macam gangguan.

Banyak orang yang mengalami sulit tidur hingga harus minum obat penenang. Celakanya, salah satu jenis obat penenang golongan benzodiazepine bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep dokter. Para panggunanya menganggap ini sangat aman. Padahal tanpa pengawasan dokter, mengonsumsinya di kadar tertentu bisa menyebabkan ketergantungan. Bahkan lebih jauh bisa menyebabkan gangguan ingatan.

Hal-hal di atas sesungguhnya menunjukan semakin jauhnya jiwa-jiwa kita dari Tuhan. Dia telah tegas menyatakan: dengan mengingat-Ku maka hati akan tenang. Sejatinya, kita tidak memerlukan penenang yang semu itu. Dengan syarat: kita mau untuk mampu.

Seharusnya kita umat yang mampu mengatur dan menertibkan diri sendiri. Tuhan menyuruh kita mengikuti Nabinya, bukan semau kita. Kita punya Nabi tapi tidak diikuti. Kita punya teladan tapi tidak kita pedulikan. Nabi mengawali aktivitas sejak pagi hari, tapi tidak merasa sangat letih di sore hari. Padahal baginda memiliki berbagai kegiatan. Baginda sangat memperhatikan waktu, tiap detik, menit dan jam agar senantiasa bermanfaat dan produktif.

Begitupun dengan tidur. Bagi kaum muslim seharusnya tidur ialah bagian dari ibadah, karena itu ada pula tuntunannya. Nabi kita membiasakan diri tidur selepas isya. Kecuali ada hal mendesak tentang keumatan yang harus dibahas dengan para sahabat. Ada kebiasaan dan aktivitas yang Nabi anjurkan sebelum tidur, yaitu wudhu, dzikr, berdoa, serta mengikhlaskan kejadian yang sudah berlalu di hari itu atau sebelumnya.

Dengan hati yang damai, tidurpun akan nyenyak dan bermutu. Bangun pagi bukan lagi masalah besar. Jangankan bangun pagi, bangun sebelum shubuh pun siap. Tak perlu lagi terburu-buru. Karena yang terburu-buru itu temannya setan.

Menelusuri Istilah “Bobotoh”

foto-persib-bandung-vs-barito-2014-SIM_8994

“Yuk ah urang ngabobotohan Persib!”. Ungkapan seperti ini sangat lazim sejak beberapa tahun lalu. Pernyataan tersebut semakna dengan ungkapan: “Yuk ah urang ngadukung Persib!” atau “Yuk ah urang nyuporteran Persib!”.

Bagi bobotoh Persib, istilah “bobotoh” sudah menjadi sebutan khas untuk menggantikan istilah “suporter” atau “pendukung”. Ya, “supporter” (dengan dua “P”) memang diadaptasi menjadi “suporter” (dengan satu “P”). Selain itu, “supporter” pun dipadankan menjadi “pendukung”. Namun, berdasarkan pemahaman penulis, istilah “suporter” tampaknya lebih banyak didengar daripada “pendukung”. Mungkin masyarakat menilainya lebih keren (?).

Lalu, sejak kapan istilah “bobotoh” digunakan?

Pada masa lalu, suporter Persib sudah banyak. Suporter Persib itu pun bernama “Balad Persib” dan “Persib Fans Club”. Meskipun berkesan kelompok suporter, menurut hemat penulis, “Balad Persib” dan “Persib Fans Club” itu bukanlah kelompok suporter tertentu (eksklusif). Artinya, si A, si B, si C, atau penulis sendiri bisa menyebut sebagai “Balad Persib” atau “Persib Fans Club”. Di dalamnya bukan saya sendiri, tetapi saya bergabung atau menggabungkan diri bersama teman-teman sesama penggemar Persib. Tidak ada semacam “Franchise”. Tidak ada cabang-cabangan.

Karenanya, dalam konteks yang melebar, saya memandang bahwa pada masa itu antar suporter tersebut bersifat cair. Saya pun suka menggambarkan bahwa kericuhan antar suporter itu sudah terjadi sejak jaman dahulu, tetapi permusuhan antar suporter itu baru terjadi sejak era Liga Indonesia. Namun demikian, terlepas dari itu, terjadinya permusuhan antar suporter belum tentu atau bukan dilatarbelakangi oleh lahirnya beberapa kelompok suporter. Itu bukanlah pembenaran. Mungkin karena masih cair.

Jadi, kembali ke pertanyaan semula, sejak kapan istilah “bobotoh” digunakan? Ya, sebagai salah seorang saksi hidup kejayaan Persib, saya baru mendengar istilah “bobotoh” itu pada awal tahun 1990-an. Selain itu, “beruntunglah” saya, dari hasil penelusuran, kliping “tertua” yang diperoleh untuk melihat istilah “bobotoh” didasarkan pada koran Pikiran Rakyat edisi 18 Agustus 1991. Mungkin ada pihak lain yang memiliki kliping lebih lama dari itu.

OK, Oke, yuk bobotoh, urang ngabobotohan Persib!